
Lebih lanjut, Muhaimin menyatakan komitmennya untuk mengangkat sejumlah santri korban ambruknya musala Ponpes Al Khoziny sebagai anak angkat. Santri yang dimaksud antara lain Haikal, Syaiful Rozi, Nur Ahmad, dan Maulana, yang mengalami amputasi akibat tertimpa reruntuhan bangunan musala beberapa waktu lalu.
Ia menegaskan bahwa komitmen tersebut bersifat jangka panjang, tidak terbatas pada bantuan sesaat. Pendampingan akan difokuskan pada keberlanjutan pendidikan, dukungan psikososial, serta pemenuhan kebutuhan hidup para santri ke depan.
“Ini bukan sekadar bantuan sesaat. Saya berkomitmen mendampingi mereka dalam jangka panjang. Pendidikan mereka harus tetap berjalan, masa depan mereka harus terjamin,” tegasnya.
Muhaimin juga menekankan pentingnya peran bersama dalam memberikan perhatian dan kepedulian kepada para korban musibah, agar mereka tetap memiliki harapan dan kepercayaan diri dalam menjalani kehidupan.
“Saya ingin mereka tetap punya mimpi besar. Keterbatasan fisik tidak boleh mematikan harapan. Mereka tidak boleh berjalan sendiri,” pungkasnya.


Tidak ada komentar